Store-nya (ceritanya) memang begitu: seorang pejabat daerah melintas, kamera ponsel warga berbunyi, ekspektasi publik naik. Tapi hingga Kamis siang, tak ada sapu, tak ada truk sampah, tak ada gerakan. Hanya ada tumpukan sampah yang tetap gagah berdiri, seolah menertawakan janji yang hanya lewat dalam hitungan detik.
Kondisi ini bukan hanya soal estetika yang memprihatinkan. Lebih dari itu, bau tak sedap yang menyengat sudah menjadi “parfum” gratis bagi pengguna jalan dan warga sekitar. Lalu lintas pun mulai terganggu, karena tumpukan itu dengan santai memakan sebagian badan jalan. Belum lagi potensi penyakit yang siap menjadi “buah tangan” bagi warga yang terpaksa beraktivitas di tengah tumpukan itu.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi soal apakah sampah itu ada, melainkan: apakah “gemilang” yang dimaksud dalam seruan warga itu adalah julukan baru untuk tumpukan sampah yang dibiarkan berjaya di Teluknaga? Semoga petugas kebersihan segera menemukan jalannya, sebelum kata “gemilang” berubah menjadi eufemisme untuk kelalaian.
(Ard/Rdk)



